Rilis Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III/2025, Ketenagakerjaan Agustus 2025 & IPM 2025 - Berita dan Siaran Pers - Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat

Beranda

Produk - Berita dan Siaran Pers

Rilis Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III/2025, Ketenagakerjaan Agustus 2025 & IPM 2025

Rilis Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III/2025, Ketenagakerjaan Agustus 2025 & IPM 2025

Rilis Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III/2025, Ketenagakerjaan Agustus 2025 & IPM 2025

5 November 2025 | Kegiatan Statistik Lainnya


Laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat Triwulan III/2025 sebesar 0,46 persen secara quartal to quartal (q-to-q), sedangkan secara year on year (y-on-y) tumbuh sebesar 5,20 persen, dan secara cumulative to cumulative (c-to-c) tumbuh sebesar 5,14 persen. Demikian disampaikan Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat, Darwis Sitorus pada rilis Berita Resmi Statistik di Aula Kantor BPS Provinsi Jawa Barat Rabu, (05/11/2025).

Kinerja ekonomi triwulan III/2025 secara q-to-q yang tumbuh 0,46 persen lebih rendah jika dibandingkan dengan kinerja pada triwulan II/2025 yang tumbuh 2,33 persen. Demikian pula secara y-on-y triwulan III/2025 yang tumbuh 5,20 persen lebih rendah dibanding triwulan II/2025 yang tumbuh 5,23 persen.

Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat secara q-to-q lebih rendah jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tumbuh sebesar 1,43 persen.

“Nilai PDRB Jawa Barat pada triwulan III/2025 mencapai 461,90 triliun atas dasar harga konstan atau mencapai 759,80 triliun atas dasar harga berlaku.”, jelas Darwis.

Struktur ekonomi PDRB menurut lapangan usaha secara q-to-q, ekonomi Jawa Barat didominasi aktifitas industri pengolahan yang memberikan kontribusi sebesar 40,94 persen dengan laju pertumbuhan sebesar 2,49 persen. Kategori perdagangan berkontribusi sebesar 14,38 persen dengan laju pertumbuhan sebesar 0,32 persen. Kategori pertanian berkontribusi sebesar 8,57 persen dengan laju pertumbuhan terkontraksi sebesar 6,96 persen. Kategori konstruksi memberikan kontribusi sebesar 8,39 persen dengan laju pertumbuhan sebesar 1,50 persen. Kategori transportasi berkontribusi sebesar 6,51 persen dengan laju pertumbuhan terkontraksi sebesar 1,42 persen.

Sementara itu laju pertumbuhan ekonomi menurut pengeluaran secara q-to-q, konsumsi rumah tangga mendominasi sebesar 65,15 persen dengan laju pertumbuhan terkontraksi sebesar 2,04 persen. PMTB berkontribusi sebesar 24,63 persen dengan laju pertumbuhan sebesar 1,89 persen. Sementara konsumsi pemerintah berkontribusi sebesar 4,60 persen dengan laju pertumbuhan sebesar 5,23 persen. Konsumsi LNPRT berkontribusi sebesar 0,66 persen dengan laju pertumbuhan terkontraksi 3,84 persen. Sedangkan net ekspor berkontribusi sebesar 4,93 persen dengan laju pertumbuhan sebesar 9,42 persen.

“Sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Barat terbesar pada triwulan III/2025 secara q-to-q menurut lapangan usaha adalah industri pengolahan sebesar 1,02 persen. Sedangkan menurut pengeluaran adalah net ekspor sebesar 1,07 persen”, rinci Darwis.

Pertumbuhan ekonomi triwulan III/2025 secara year on year Sebesar 5,20 persen.

Secara year on year pada triwulan III/2025 pertumbuhan ekonomi Jawa Barat sebesar 5,20 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding angka pertumbuhan nasional yang sebesar 5,04. 

Menurut lapangan usaha, yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah kategori jasa perusahaan dengan laju pertumbuhan sebesar 16,37 persen, diikuti kategori akomodasi dan makanan minuman sebesar 15,53 persen. Kategori industri yang merupakan kategori dengan kontribusi tertinggi dalam struktur PDRB Jawa Barat tumbuh sebesar 3,15 persen. Sedangkan kategori yang mengalami kontraksi yaitu kategori administrasi pemerintahan sebesar 0,73 dan kategori pertambangan terkontraksi sebesar 1,13 persen.

Sementara menurut pengeluaran PMTB memiliki laju pertumbuhan tertinggi sebesar 5,27 persen, diikuti konsumsi pemerintah sebesar 5,04 persen dan konsumsi rumah tangga sebesar 4,92 persen.

“Secara year on year sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Barat triwulan III/2025 tertinggi yaitu industri pengolahan sebesar 1,35 persen, sedangkan menurut pengeluaran yang tertinggi yaitu konsumsi rumah tangga sebesar 2,91 persen.”, rinci Darwis.

Darwis Sitorus juga menjelaskan perbandingan pertumbuhan ekonomi antar pulau. Di Pulau Jawa pada triwulan III/2025 secara year on year tumbuh sebesar 5,17 persen, angka ini berkontribusi sebesar 56,68 persen terhadap PDRB ADHB nasional pada triwulan III/2025. Di Pulau Jawa provinsi yang memiliki laju pertumbuhan ekonomi tertinggi yaitu DI Yogyakarta sebesar 5,40 persen, dan yang terendah adalah DKI Jakarta dengan laju pertumbuhan sebesar 4,96 persen.

Jawa Barat dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,20 persen berada di posisi kelima di Pulau Jawa dan berkontribusi sebesar 12,73 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kinerja positif ekonomi di Jawa Barat didorong oleh banyak faktor antara lain MBG dengan kehadiran 2565 unit SPPG, mobilitas masyarakat sepanjang Januari-September, produksi padi yang meningkat, dan juga capaian realisasi investasi PMA dan PMDN yang medorong sektor konstruksi dan komponen PMTB.”, jelas Darwis.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Agustus 2025 sebesar 66,99 Persen

Plt. Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Darwis Sitorus dalam rilisnya juga menyampaikan terkait perkembangan ketenagakerjaan periode Agustus 2025 yang mencapai 66,99 persen. Angka ini turun jika dibandingkan periode yang sama Agustus 2024 yang mencapai 67,71 persen.
Angka ini bisa dijelaskan bahwa terdapat 66-67 dari 100 penduduk usia kerja yang aktif secara ekonomi. Terjadi penyerapan tenaga kerja sebanyak 0,09 juta orang sepanjang Agustus 2024 hingga Agustus 2025.

Berdasarkan jenis kelamin TPAK laki-laki sebesar 84,41 persen sedangkan TPAK perempuan hanya sebesar 49,27 persen. Selama periode Agustus 2024 – Agustus 2025 TPAK perempuan menurun lebih cepat dibandingkan dengan TPAK laki-laki.

Data per Agustus 2024 jumlah penduduk bekerja mencapai 24,51 juta orang dengan distribusi status pekerjaan terbesar adalah sebagai buruh/karyawan/pegawai sebesar 42,02 persen diikuti berusaha sendiri sebesar 23,06 persen. Dan proporsi pekerja informal lebih tinggi yaitu sebesar 54,95 persen dibandingkan pekerja formal yang sebesar 45,05 persen.

“Proporsi penduduk bekerja pada kegiatan informal mengalami kenaikan selama Agustus 2024 hingga Agustus 2025 didorong oleh bertambahnya pekerja dengan status berusaha sendiri.”, terang Darwis.

Penyerapan tenaga kerja menurut lapangan usaha sebagian besar pada sektor perdagangan sebesar 22,69 persen, diikuti sektor industri pengolahan sebesar 18,73 persen dan sektor pertanian sebesar 15,24 persen.

Menurut tingkat pendidikan penduduk bekerja didominasi oleh jenjang SD sebesar 36,61 persen atau sebanyak 8,97 orang, SMA sebesar 18,08 persen atau sebanyak 4,43 juta orang,  SMP sebesar 17,31 persen atau sebanyak 4,24 juta orang. Sedangkan yang berpendidikan tinggi atau diploma ke atas sebesar 11,15 persen dari total penduduk bekerja.

Darwis Sitorus juga menerangkan terjadi kenaikan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Agusus 2025 sebesar 6,77 persen atau sebanyak 1,78 juta orang. Menurut jenis kelamin TPT laki-laki sebesar 6,92 persen, sedangkan TPT perempuan sebesar 6,51 persen. Dan jika dilihat dari wilayah maka TPT diperkotaan sebesar 7,19 persen lebih tinggi dibandingkan TPT perdesaan yang sebesar 4,92 persen.

Menurut tingkat pendidikan, pengangguran tertinggi pada lulusan SMK yang sebesar 12,81 persen. Angka ini menigkat jika dibandingan dengan periode sebelunya yaitu 12,74 persen pada Agustus 2024 dan 12,42 persen pada Februari 2025.

Berdasarkan kabupaten/kota TPT tertinggi tercatat di Kabupaten Bekasi sebesar 8,78 persen dan terendah di Kabupaten Pangandaran sebesr 1,91 persen. Sepanjang periode Agustus 2024 hingga Agustus 2025 sebanyak 16 kabupaten/kota mengalamai penuruan TPT sedangan 11 kabupaten/kota lainnya mengalami kenaikan TPT.

IPM Jawa Barat 2025 capai 75,90, naik dibandingkan 2024.

Dalam rilis kali ini, BPS Provinsi Jawa Barat juga merilis Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Komponen IPM antara lain umur harapan hidup, rata-rata lama sekolah dan pengeluaran riil per kapita per tahun.
Angka IPM Jawa Barat 2025 mencapai 75,90, angka ini naik 0,98 poin atau 1,31 persen jika dibandingkan dengan 2024. Capaian IPM Jawa Barat ini masih berada dama kategori “tinggi”.

Jika dirinci berdasarkan komponennya, umur harapan hidup (UHH) yaitu 75,53 tahun atau mengalami peningkatan sebesar 0,37 persen dibandingkan 2024. Angka UHH ini tumbuh 0,49 persen, dan pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan selama periode 2020-2024 yang sebesar 0,33 persen.

Dari sisi dimensi standar hidup layak,pengeluaran riil per kapita per tahun sebesar Rp. 12.447.00,- atau terjadi peningkatan sebesar 290 ribu rupiah. Angka ini tumbuh 2,39 persen dibandingkan 2024, namun masih lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan 2020-2024 yang sebesar 2,90 persen.

Sementara itu harapan lama sekolah (HLS) selama 13,02 tahun atau naik 0,37 persen dibandingkan 2024 atau tumbuh 0,49 persen. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan periode 2020-2024 yang sebesar 0,33 persen.

Selain itu angka rata-rata lama sekolah (RLS) selama 9,14 tahun naik 0,27 persen atau tumbuh 3,04 persen dibandingkan 2024. Petumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan periode 2020-2024 yang hanya 0,92 persen.

“Jika kita lihat IPM tertinggi ada di Kota Bandung dengan nilai 84,66 dan terendah di Kabupaten Cianjur dengan nilai 69.84. Ada 4 Kota yang berada pada status “sangat tinggi” dan 22 kabupaten/kota berada pada status “tinggi”. Sedangkan saat ini Cianjur menjadi satu-satunya daerah yang masih berstatus “sedang” dalam klasifikasi IPM.”, pungkas Darwis.

Badan Pusat Statistik

Badan Pusat Statistik

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat (BPS-Statistics Jawa Barat Province)Jl. PHH. Mustofa No. 43 Bandung 40124

Jawa Barat - Indonesia

Telp: +62 22 7272595

Mailbox: [email protected]; [email protected]

Whatsapp : 0851-7992-8832 (Chat Only)

logo_footer

Hak Cipta © 2023 Badan Pusat Statistik